Saturday, March 7, 2015

GENERASI MUDA BEBAS ROKOK SEBAGAI AGEN PERUBAHAN


So, what next? Setelah kita mengetahui fakta-fakta yang ada dari sebatang rokok, apa yang harus kita tindak lanjuti sebagai generasi muda yang potensial dan keren banget gitu loh…
Simak, camkan dan lakukan !

Pertama, apa yang dapat kita lakukan untuk diri sendiri? 
Jika kita belum pernah merokok, maka jangan coba-coba apapun alasannya.  Tetapi, jika kita sudah telanjur merokok, tak ada kata terlambat, kurangi atau hentikan sama sekali. Susah kah? Pastinya … Mungkinkah? Tak ada yang tak mungkin jika kita mau berusaha. Mintalah bantuan orang-orang yang kita cintai, ayah, ibu, kakak, adik yang jelas-jelas tidak merokok. Mereka pasti dengan senang hati akan membantu, mengingatkan, bahkan mendoakan kita supaya berhasil menjauh dari yang namanya rokok.

TIPS Berhenti Merokok
Dibawah ini adalah cara untuk berhenti merokok, diantaranya: 
1.  Niat yang sungguh-sungguh untuk berhenti merokok… no way!
2.  Belajar membenci rokok, ingat-ingat terus ancamannya bagi kesehatan kita 
3.  Bergaullah dengan orang yang tidak merokok, karena kita akan mudah terpengaruh atau terseret lagi untuk merokok jika sering berada di lingkungan perokok
4.  Sering-sering pergi ke tempat yang ruangannya ber-AC, jika mengingap di hotel pilih kamar di area tanpa asap rokok (no smoking area)
5.  Pindahkan semua barang-barang yang berhubungan dengan rokok. Bau lagi!
6.  Hilangkan kebiasaan  bengong atau menunggu.  Bawa buku atau komik kalau perlu untuk mengisi kekosongan
7.  Cari pengganti rokok, misalnya permen atau gula.
8.  Bagi yang kurang berolah raga, perbanyak waktu berolah raga.

Kedua, jangan segan menegur
Disamping upaya-upaya menghentikan merokok bagi yang merokok, adalah baik jika secara bersama kita menjaga lingkungan yang bersih dari asap rokok. Caranya adalah berani memperjuangkan hak kita dan keluarga  untuk sehat, misalnya menegur perokok yang jelas-jelas merokok di area “Dilarang Merokok”.   Sekiranyapun ada anggota keluarga kita yang merokok, apakah itu orangtua, kakak, paman, bibi, atau pacar barangkali, jangan segan ingatkan mereka untuk merokok di areanya dan tidak merokok di depan/dekat anak-anak, isteri, dan wanita hamil.

Karena seringkali mereka yang merokok bahkan secara sadar mengepulkan asap rokok saat sedang berdekatan dengan anak-anaknya. Mereka tidak saja memberi contoh yang tidak baik,  mempertontonkan kepada anak kenikmatan mereka dalam merokok, sekaligus ‘meracuni’ orang-orang yang mereka cintai dengan asap rokok. Kitapun perlu mengembangkan sikap kritis terhadap segala hal yang melanggar hak dan kenyamanan masyarakat umum. Misalnya dengan turut memonitor pemberlakuan dari peraturan-peraturan Pemerintah akan kawasan dilarang merokok dan publikasi rokok yang bertanggung jawab. Mari mengasah sifat peduli kita dengan menjaga eksistensi prasarana bebas asap rokok. Jika kita makan di sebuah restaurant, tanyakan bagian mana diperuntukan bagi yang tidak merokok. Jangan mau dicampur dengan mereka yang merokok. Jika mereka tidak menyediakannya, kita patut mengisi kuesioner ataupun kritik kepada pemiliknya.
 
Pun, jika ada publikasi atau iklan yang tidak mengindahkan peraturan Pemerintah dalam hal ini, tak ada salahnya jika kita gunakan forum surat pembaca untuk menyampaikan keprihatinan ini secara terbuka. Tentunya kesemua itu kita lakukan dengan tata cara yang baik, santun serta sesuai prosedur.  Artinya, marilah kita juga secara dewasa mengambil bagian dalam gerakan mengurangi dampak merokok terhadap lingkungan dan keluarga yang kita cintai.

Ketiga, ambil hikmah dari keberadaan industri rokok
Pada Bab pertama telah kita ikuti sisi lain dari industri  rokok yakni upaya-upaya mereka dalam membangun citra baik guna menyeimbangi sikap kontra masyarakat yang tidak merokok. Ketimbang kita ikutan dan melulu cuma berkeluh kesah lebih baik kita mengambil hikmahnya saja. Misalnya, mengajukan proposal sponsorship untuk mendukung kegiatan-kegiatan di sekolah, universitas atau kepemudaan seputar lingkungan kita tinggal. Tentunya kegiatan-kegiatan tersebut harus dikemas dan dipersiapkan secara baik, karena bagaimanapun juga perusahaan tidak dengan mudah mengeluarkan dana untuk kegiatan yang tidak memberi ‘keuntungan’ bagi mereka. 

Berikut adalah beberapa strategi untuk mengajukan sponsorship:
-  Kegiatan yang kita lakukan haruslah mempunyai nilai lebih, apakah itu dari segi cakupannya yang luas, melibatkan relatif banyak peserta, memiliki manfaat secara umum (bukan hanya untuk lingkungan sekolah saja, tetapi masyarakat sekitar sekolah). 
-  Perusahaan akan lebih mempertimbangkan kegiatan yang berdampak pada perkembangan lingkungan, pendidikan, nilai-nilai budaya atau yang bersifat charity misalnya membangun prasarana sekolah, rumah ibadah yang rusak karena bencana alam. Contoh: kita mengajak masyarakat sekitar untuk membenahi mesjid, mengecattembok yang sudah kusam,  membersihkan atau memperbaiki prasarana wudhu. Alternatif lainnya, memperingati hari kemerdekaan RI dengan menanam pohon pohon di daerah yang gersang. Untuk bidang pendidikan, pengurus OSIS dapat mengembangkan program ‘Ayo Belajar’ bagi anak-anak balita atau tingkat SD dengan keterbatasan ekonomi. Teman-teman kita yang memiliki talenta mengajar misalnya, atau yang memiliki kemampuan berbahasa Inggris yang baik, bisa berbagi ilmu dengan mengajar anak-anak tersebut di luar jam sekolah. Tempatnya bisa menggunakan atau meminjam ruang kelas di sekolah.  Program-program kepedulian ini selain melibatkan masyarakat sekitar, juga memberi manfaat bagi lingkungan. Aspek-aspek seperti ini akan menjadi pertimbangan positif bagi perusahaan yang akan mensponsori.
-  Tentukan kontra prestasi yang win-win (menguntungkan kedua belah pihak). Untuk kita sebagai pihak penyelenggara memperoleh dukungan dana untuk kegiatan yang kita lakukan. Sedangkan bagi perusahaan yang memberi sponsor, pemuatan logo perusahaan/lembaga di brosur, backdrop, alat tulis, spanduk atau cinderamata lainnya. Pastikan tidak ada pembagian sample rokok, gambar dan merk rokok. Untuk itu sebaiknya pendekatan kita lakukan pada Yayasan yang dibentuk oleh industri rokok terkait kegiatan CSR mereka.  
-  Upayakan untuk  dapat melakukan presentasi langsung kepada pejabat terkait ketimbang hanya mengirim proposal secara tak terarah. Kualitas lebih penting daripada kuantitas, artinya kita seleksi beberapa saja perusahaan yang potensial atau perusahaan dimana sekolah/universitas memilki akses dan relasi yang baik.
-  Selain sponsor, kita juga perlu rajin mencari informasi tentang perusahaan yang memberikan beasiswa. Tak ada salahnya kita mencoba untuk mengajukan beasiswa baik perorangan, atau kolektif melalui sekolah. Tidak semua  perusahaan hanya mempertimbangkan beasiswa berdasarkan nilai tertinggi siswa, ada juga perusahaan yang dapat mempertimbangkan dari segi ekonomi keluarga. Jadi tidak perlu takut jika nilai kita  bukan  yang terbaik atau kita bukan siswa teladan. Buatlah suatu proposal yang dapat meyakinkan perusahaan bahwa kita memang sungguh-sungguh ingin belajar, memperoleh pendidikan yang tinggi, tetapi memiliki keterbatasan dari segi dana. Lengkapi ajuan dengan dokumen atau surat-surat pendukung seperti keterangan dari lurah atau sekolah.

MARILAH SECARA BERSAMA KITA MENJADI AGEN PERUBAHAN UNTUK INDONESIA YANG
LEBIH SEHAT DAN SEJAHTERA DENGAN MENGURANGI DAMPAK ROKOK BAGI SIAPAPUN.

Sumber : Draft Akhir Buku Bahaya Merokok Bagi Generasi Muda, Direktorat Pengolahan Dan Penyediaan Informasi Direktorat Jenderal Informasi Dan Komunikasi Publik

No comments:

Post a Comment