Tuesday, April 7, 2015

PROSES BELAJAR DALAM PENYULUHAN PERTANIAN



BAB I
PENDAHULUAN

Di masyarakat tumbuh kebutuhan yang meningkat akan adanya bimbingan dan penyuluh atau tenaga yang mampu mengembangkan ketrampilan hubungan antarorang pada umumnya. Tenaga seperti ini diperlukan di berbagai lingkungan, seperti di sekolah, lingkungan industri, ketenaga-kerjaan, dan terutama di bidang pertanian. Sebelum terjun dalam lingkungan tertentu, seorang calon penyuluh perlu menjalani dan terlibat langsung di dalam latihan yang baik dan mantap guna mengembangkan kemahiran dalam pemakaian ketrampilan penyuluhan.
Dalam suatu hubungan penyuluhan, penyuluh yang terlatih dengan baik mempunyai sejumlah metode yang dapat digunakannya untuk membantu klien. Suatu metode dapat dipandang sebagai usaha penyuluhan bila ia memiliki persyaratan-persyaratan tertentu yang harus dipenuhinya. Kemampuan penyuluh yang efektif berarti kemampuan menggunakan ketrampilan-ketrampilan yang benar-benar tepat sesuai dengan tuntutan suasana. Untuk dapat mengajarkan ketrampilan menyuluh, pengajar perlu memiliki tingkat kematangan yang tinggi dan kemampuan yang mentap dalam mengadakan hubungan antar orang. Dari segi pribadinya pengajar hendaknya memiliki kepribadian yang hangat, terbuka, menerimadiri sendiri dan mampu mengungkapkan (membuka) diri sendiri.
Penyuluhan adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan dalam suasana hubungan tatap muka antara dua orang; yang satu oleh karena keahliannya membantu yang lain untuk mampu mengatasi kesulitan yang dihadapinya. Orang yang memberi bantuan disebut penyuluh dan yang diberi bantuan disebut klien. Dan sering dikatakan bahwa penyuluhan itu alat daripada bimbingan. Dengan kata lain, bimbingan itu diberikan melalui penyuluhan. Dengan demikian keberhasilan bimbingan banyak ditentukan bagaimana penyuluh itu dilakukan. Untuk dapat melakukan penyuluhan secara lebih terarah, penyuluh dituntut untuk benar-benar menguasai ketrampilan dan pengetahuan dalam melaksanakan penyuluhan.
BAB II
PEMBAHASAN

Belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku berkat pengalaman dan latihan. Proses belajar yang seharusnya dilakukan dalam penyuluhan adalah proses pendidikan yang diterapkan dalam pendidikan orang dewasa (adult education/andragogie). Di dalam penyuluhan, pendidikan orang dewasa bersifat seperti sukarelawan, artinya tidak ada paksaan dalam melakukan penyuluhan.
Tujuan seseorang untuk belajar ternyata sangat beragam, yaitu:
  1. Sebagai jawaban terhadap panggilan hidupnya, untuk melakukan kegiatan belajar seumur hidup,  guna mempertahankan dan memperbaiki kehidupannya.
  2. Untuk menambah pengetahuan, baik sebagai petualangan (sekedar tahu) maupun untuk dimanfaatkan bagi kehidupan, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. 
  3. Sebagai kesadaran untuk berafiliasi atau bergabung dengan sesamanya, dan tujuan-tujuan sosial lain. 
  4. Sebagai rasa tanggung jawabnya sebagai warga masyarakat, yang harus berpartisipasi dalam upaya perbaikan kehidupan masyarakatnya.
  5. Untuk mencapai prestasi tertentu bagi pengembangan keahlian, karir, dan penghasilannya.
  6. Untuk memperoleh penghargaan dari lingkungannya, atau setidak tidaknya diakui sebagai anggota sistem sosialnya.
  7. Sebagai aktualisasi dari keberadaanya.
Bertolak dari pemahaman tersebut maka setiap kegiatan belajar harus memperhatikan prinsip-prinsip belajar, yaitu :
1.    Prinsip latihan (practice)
Yaitu proses belajar yang dibarengi dengan latihan atau aktivitas fisik untuk merangsang kegiatan anggota badan (kaki, tangan, dll). Atau belajar sambil melakukan kegiatan yang dialami sendiri oleh warga belajar.
2.    Prinsip menghubung-hubungkan (asociation)
Yaitu proses belajar dengan jalan menghubung – hubungkan prilaku lama (terutama sikap dan pengetahuan atau perasaan dan pikiran) dengan stimulus – stimulus baru yang memiliki kemiripan dan aitan erat dengan prilaku yang sudah dimiliki, sehingga akan semakin mudah diterima dan dipahami.
3.    Prinsip akibat (effect)
Seperti telah dikemukakan bahwa setiap peserta didik pasti memiliki tujuan yang bermanfaat yang ingin dicapai melalui proses belajarnya. Karena itu hasil belajar yang diharapkan melalui suatu kegiatan penyuluhan akan semakin baik manakala proses belajar itu akan memberika sesuatu yang bermanfaat bagi warga belajarnya atau memberikan sesuatu yang disenangi atau membuat warga belajar menyenanginya.
4.    Prinsip kesiapan (readiness)
Setiap kegiatan pendidikan hanya akan berhasil baik jika pendidik mampu memahami keadaan peserta didiknya terutama yang berkaitan dengan fisik (kenyamanan lingkungan diselenggarakannya pendidikan, waktu pelaksanaan, lamanya kegiatan, dan lain-lain) maupun kesiapan sasarannya (kebutuhan, keinginan, hal-hal yang tidak disukai dan lain-lain).
Proses belajar pada orang dewasa terdiri dari beberapa prinsip yaitu:
  1. Orang dewasa belajar dengan baik apabila mengambil bagian secara penuh dalam kegiatan-kegiatan.
  2. Orang dewasa belajar dengan baik apabila hal yang dipelajari menarik dan berkaitan dengan kehidupannya sehari-hari.
  3. Orang dewasa belajar sebaik mungkin apabila yang dipelajari bermanfaat dan praktis.
  4. Dorongan semangat dan pengulangan yang terus menerus akan membantu seseorang belajar lebih baik.
  5. Orang dewasa belajar sebaik mungkin apabila mempunyai kesempatan untuk memanfaatkan secara penuh pengetahuannya, kemampuannya dan keterampilannya dalam waktu yang cukup.
  6. Proses belajar dipengaruhi oleh pengalaman-pengalaman masa lalu dan daya pikir dari orang dewasa.
  7. Saling pengertian yang baik dan sesuai dengan ciri-ciri utama dari orang dewasa membantu pencapaian tujuan dalam belajar.
Adapun karakteristik pendidikan orang dewasa dalam kaitannya dengan proses belajar di dalam penyuluhan adalah sebagai berikut:
1.    Proses belajar yang berlangsung secara lateral atau horizontal, yaitu proses belajar bersama, dimana semua pihak yang terlibat saling bertukar informasi, pengetahuan, dan pengalaman.
2.    Kedudukan penyuluh tidak berada di atas atau lebih tinggi dibanding petaninya, melainkan dalam posisi yan sejajar. Kedudukan sebagai mitra sejajar tidak hanya terletak pada proses pertukaran informasi, pengetahuan dan pengalaman selama berlangsungnya kegiatan penyuluhan, tetapi dimulai dari sikap pribadi selama berkomunikasi, sikap saling menghargai, saling menghormati, dan saling memperdulikan antar penyuluh dan petani karena mereka saling membutuhkan dan memiliki kepentingan dan tujuan yang sama dalam meningkatkan kemajuan pertanian.
3.    Peran penyuluh bukan sebagai guru yang harus menggurui petani/masyarakat, melainkan sebatas sebagai fasilitator yang membantu proses belajar, baik selaku moderator (pemandu acara), motivator (yang merangsang dan mendorong proses belajar) atau sekedar nara sumber manakala terjadi “kebuntutan” dalam proses belajar yang berlangsung.
4.    Dalam proses persiapan pelaksanaan kegiatan penyuluhan, perlu memperhatikan karakteristik orang dewasa dan karakteristik emosional.
5.    Materi penyuluhan harus berangkat dari “kebutuhan yang dirasakan”. Terutama menyangkut:
a.    kegiatan yang sedang dan akan dilaksanakan.
b.    masalah yang sedang dan akan dihadapi.
c.    perubahan-perubahan yang diperlukan atau diinginkan.
d.   tempat dan waktu pelaksanaan penyuluhan, sebaiknya juga harus disesuaikan dengan kesepakatan masyarakat, yaitu :
1)   tempat penyuluhan tidak harus selalu dihamparan/lahan usaha tani, tidak harus menetap, tatapi dapat berpindah-pindah sesuai dengan materi dan kesempatan yang dimiliki.
2)   hari dan waktu pertemuan, tidak harus tetap tetapi yang penting harus ada kepastian.
3)   Selang waktu kunjungan tidak harus dua minggu sekali, tetapi yang penting dilakukan pertemuan (kunjungan) 2 kali dalam sebulan, atau untuk masyarakat jawa dapat diundur sedikit menjadi 2 kali dalam selapan (35) hari.
6.    Keberhasilan proses belajar, tidak diukur dari seberapa banyak terjadi “transfer of knowledge”, tetapi lebih memperhatikan seberapa jauh terjadi dialog (diskusi,sharing) antar peserta kegiatan penyuluhan. Berlangsungnya dialog seperti ini memiliki arti yang sangat penting kaitannya dengan penggalian inovasi yang ditawarkan dari luar maupun indegenuous technology yang digali atau warisan generasi tua.
a.    Peluang diterima dan keberhasilan inovasi yang ditawarkan.
b.    Berkembangnya partisipasi masyarakat dalam bentuk untuk merasakan memiliki, keharusan, turut mengamankan segala keputusan yang disepakati (melaksanakan, monitoring dll).
Untuk mencapai efektivitas belajar yang optimal, terdapat beragam jenis belajar yang dapat dipratekkan baik oleh pendidik maupun peserta didik, yaitu :
1.    Belajar konsep, yaitu mengabstraksikan ide atau realitas dalam pikirannya dan berdasarkan konsep yang disusun itu yang bersangkutan akan memberikan respon yang tepat menurut konsep yang diketahuinya. Contoh : Seorang petani menghadapi tanaman yang layu, maka dia akan berusaha mencari air.
2.    Belajar prinsip, yaitu mempelajari hubungan konsep-konsep yang memiliki arti tertentu menurut aturan tertentu. Dengan kata lain, belajar prinsip adalah mempelajari beragam prinsip atau rangkaian konsep yang memiliki arti tertentu. Contomenghah : Jika seorang petani menghadapi tanaman layu dan menurut konsep disebabkan oleh serangan penyakit maka petani harus mempelajari prinsip-prinsip perlindungan tanaman yang benar.
3.    Multiple discrimination, yaitu kemampuan untuk respon yang benar terhadap beragam stimulus yang berbeda.  Dalam hal ini, individu yang bersangkutan harus mampu memahami dan membeda-bedakan beragam stimulus yang berbeda. Contoh : Jika seorang petani menghadapi tanaman yang layu dia harus mampu mengidentifikasi sebab-sebab kelayuannya dan memberikan respon yang tepat untuk mengatasi kelayuan tersebut.
4.    Belajar memecahkan masalah atau (problem solving learning) yaitu mempelajari cara – cara memecahkan masalah yang dihadapi. Jika ternyata masalahnya tidak dapat terpecahkan melalui penerapan prinsip – prinsip tertentu, harus mecari prinsip – prinsip lainnya. Contoh : jika petani menghadapi serangan hama tikus dia dapat memberantasnya dengan cara nggropyokan tetapi jika cara ini belum efektif, dia harus mencoba cara – cara pemberantasan lain (pemasangan umpan, pengasapan lubangnya).
5.    Belajar partisipatif, yaitu belajar proses bersama yang dilakukan sekelompok individu dengan atau tanpa difasilitasi orang luar, dimana sesama peserta didik saling berinteraksi, saling membantu, berbagi pengetahuan dan pengalaman, serta saling memperhatikan (helping, sharing, dan caring). Euntungan proses belajar ini adalah semua peserta ajar memperoleh pengakuan dan kesempatan yang sama untuk mengemukakan pendapat dan pengalaman masing – masing. Contoh : curah pendapat tanya jawab, diskusi, bermain peran, studi kasus tugas kelompok dan tugas mandiri.
6.    Belajar penelusuruan dan penemuan, yaitu kegiatan belajar yang dirancang sebagai kegiatan yang dilakuakan untuk menemukan akar masalah, dalam rangka memecahkan masalah memalui serangkaian aktivitas penyelidikan.
7.    Belajar kuantum adalah suatu jenis belajar dengan mengoptimalkan semua sumber daya pendidikan yang terdiri dari pendidik, peserta didik, perlengkapan pendidikan, dan kondisi lingkungan. Keadaan lingkungan yang dimaksud disini adalah nilai – nilai sosial budaya dan waktu yang tersedia.
8.    Belajar kontekstual kolaboratif adalah suatu pendekatan yang mengaitkan materi belajar dengan dunia siswa melalui interaksi sosial dalam suatu kelompok. Tujuannya adalah untuk membekali pembelajaran dengan pengetahuan yang secara fleksibel dapat ditransfer dari satu konteks ke konteks lainnya
9.    Pembelajaran SCL (student centre learning) adalah pembelajaran yang berpusat pada aktivitas belajar peserta didik bukan hanya pada aktivitas mengajar.
Berkaitan proses belajar yang berlangsung dalam kegiatan penyuluhan perlu juga diperhatikan pentingnya:
1.    Proses belajar yang tidak harus melalui sistem sekolah, yang memungkinkan semua peserta dapat berpartisipasi aktif dalam kegiatan belajar bersama.
2.    Tumbuh dan berkembangnya semangat belajar seumur hidup, dalm arti pentingnya rangsangan, dorongan, dukungan, dan pendamping terus menerus secar berkelanjutan.
3.    Tempat dan waktu penyuluhan, harus disepakati lebih dahulu dengan calon peserta kegiatan dengan lebih memperhatikan kepentingan atau kesediaan mereka. Pemilihan waktu dan tempat penyuluhan tidak boleh ditetapkan sendiri oleh penyuluh/fasilitatornya menurut kegiatan dan waktu yang disediakannya.
4.    Tersediannya perlengkapan penyuluhan (alat bantu dan alat peragaaan terutama yang berkaitan dengan pangliatan/pencahayaan dan paendengaran). Perlengkapan yang disediakan, sebaiknya berupa alat bantu dan peraga berupa contoh riil yang dapat disediakan dan dapat digunakan sesuai kondisi setempat.
5.    Materi ajaran tidak harus bersumber dari textbook, tetapi dapat dari media masa seperti: Koran, tabloid, laporan, radio, telavisi, pertunjukan kesenian, perjalanan, termasuk cerita rakyat maupun pesan-pesan generasi tua/para pendahulu, maupun pengalaman kerja dan pengalaman sehari-hari.
6.    Materi ajakan tidak harus baru (up to date), tetapi dapat juga cerita kuno, atau praktek-praktek lam yang sebenarnya sudah pernah dilakukan tetapi lama ditinggalkan.
7.    Sumber bahan ajar, tidak harus berasal dari orang-orang pintar, tokoh masyarakat atau pejabat, melainkan dari siapa saja (termasuk pihak-pihak yang sering direndahkan).
8.    Pengembangn kebiasaan untuk bersama-sama mengkaji atau mengkritisi setiap inovasi (dari manapun subernya), kaitannya dengan peluang dan ancaman, manfaat/keuntungan yang akan diharapkan dari resiko yang akan ditanggung, serta tungkat kesesuaian dengan keadan alami/fisik, kemampuan ekonomi, daya nalar, agama, adapt, kepercayaan, dan norma kehidupan masyarakat setempat.
9.    Keberhasilan fasilitator atau nara sumber tidak selalu harus diterima sebagai penentu tetapi cukup sebagai pemberi pertimbangan bagaimanapun keputusan sangat tergantung kepada masing-masing individu atau kesepakatan masyarakat setempat.
Beberapa prinsip yang perlu dikedepankan dalam sebuah proses belajar pada kegiatan penyuluhan yang terkait dengan pendidikan orang dewasa, antara lain:
1.    Penyuluh harus dapat berperan sebagai fasilitator, bukan sebagai guru. Sebagai mana makna fasilitator yang berasal dari kata bahasa inggris to facilitate yang artinya membuat mudah (memudahkan), maka seorang fasilitator memiliki peranan membantu sasaran suluh agar mudah belajar. Penyuluh berperan sebagai pembimbing atau pihak yang mempermudah jalannya proses belajar. Disini penyuluh dapat menjadi motivator, katalisator, dan konsultan.
2.    Materi penyuluhan harus berdasarkan pada kebutuhan belajar yang dirasakan oleh sasaran suluh. Sasaran suluh yang notabene adalah orang dewasa pada umumnya melihat pendidikan sebagai proses peningkatan ketrampilan yang akan segera bermanfaat dalam kehidupan sesuai fungsinya dalam masyarakat. Sehingga pendidikan orang dewasa lebih difokuskan pada kebutuhan-kebutuhan masyarakat akan materi yang dapat digunakan untuk memecahkan masalah.yang mereka hadapi. Beberapa hal yang juga perlu diperhatikan dalam pemilihan materi yang dibutuhkan oleh sasaran suluh adalah secara teknis dapat dilakukan, secara ekonomis dapat memberikan keuntungan, dan tidak bertentangan dengan nilai sosial dan budaya sasaran suluh.
3.    Efektivitas proses belajar, bukan diukur dari banyaknya “knowledge transfered”, namun lebih pada tumbuh dan berlangsungnya proses dialog/diskusi dan sharing informasi/pengalaman antar peserta kegiatan penyuluhan, lebih pada terjadinya upaya pembelajaran bersama di antara sasaran penyuluhan, dengan kata lain proses belajar harus bersifat partisipatif. Suasana belajar diupayakan bersifat informal dan mendorong masing-masing pesertanya untuk saling menghargai kerjasama.
4.    Perlu memperhatikan perbedaan individu atau karakteristik sasarn suluh. Sasaran suluh adalah orang dewasa di mana masing-masing memiliki karakteristik yang berbeda antara lain berpengalaman atau belum berpengalaman, usia muda atau tua, emosional atau kalem, bugar atau kurang bugar, berpendidikan atau kurang berpendidikan, dan lain sebagainya.
5.    Penggunaan media menekankan pada keterlibatan panca indera sasaran suluh secara optimal pada proses pembelajaran. Pembelajaran akan lebih efektif apabila didukung dengan peragaan-peragaan (media pembelajaran) yang konkret. Dengan peragaan maka pemahaman sasaran suluh akan lebih dalam. Peragaan yang dilakukan harus dilakukan sedemikian rupa sehingga sasaran suluh tidak hanya memahami sesuatu hanya terbatas pada luarnya saja, tetapi juga harus sampai pada macam seginya, dianalisis, disusun, dikomparasi sehingga dapat memperoleh gambaran yang lengkap.
6.    Tempat atau lingkungan belajar merupakan segala sesuatu yang dapat mendukung proses pembelajaran. Lingkungan pembelajaran dapat berfungsi sebagai sumber pembelajaran atau sumber belajar. Oleh karena itu, dalam kegiatan penyuluhan, seorang penyuluh harus dapat membawa, mengatur atau menciptakan lingkungan sebaik-baiknya sehingga tercipta lingkungan sebagai komponen pembelajaran yang penting kedudukannya secara baik dan memenuhi syarat.
BAB III
PENUTUP

Proses belajar dalam penyuluhan pertanian diterapkan dalam pendidikan orang dewasa atau adult education. Dalam sistem belajar yang demikian maka kedudukan dari penyuluh dengan masyarakat adalah sejajar atau horizontal, karena proses belajar dilakukan secara bersama-sama baik penyuluh itu sendiri maupun orang yang diberikan penyuluhan selain itu peran penyuluh hanya sebatas sebagai fasilitator yang membantu dalam proses belajar, baik sebagai motivator, moderator atau sekedar sebagai narasumber. Sebelum dilakukan proses belajar dalam penyuluhan, salah satu aspek yang harus dilakukan pertama kali adalah dalam hal menentukan maksud dan tujuan dari proses belajar tersebut. Hal ini dimaksudkan agar penyuluh maupun klien atau orang yang diberikan penyuluhan dapat memahami dengan seksama apa yang akan mereka pelajari bersama.
Keberhasilan dalam proses belajar, tidaklah diukur dari seberapa banyak terjadi “transfer of knowledge”, tetapi lebih memperhatikan terhadap seberapa jauhnya tingkat dialog (diskusi,sharing) antar peserta kegiatan penyuluhan itu sendiri. Hal yang tidak kalah pentingnya dalam proses belajar penyuluhan pertanian adalah ketersediaan fasilitas belajar yang memadai. Fasilitas tersebut antara lain tempat atau ruangan, waktu, alat untuk menunjang pelaksanaan penyuluhan.
DAFTAR PUSTAKA

Anonima. 2009. Proses Pembelajaran dalam Penyuluhan. http://arsury.blogspot.com/2009/02/beberapa-prinsip-proses pembelajaran.html. Diakses pada tanggal 8 Mei 2012 pukul 12.00 WIB.
Anonimb. 2010. Proses Belajar dalam Penyuluhan Pertanian. http://eone87.wordpress.com/2010/04/03/proses-belajar-dalam-penyuluhan-pertanian/. Diakses pada tanggal 8 Mei 2012 pukul 11.00 WIB.
Anonimc. 2011. Bagaimana Proses Belajar pada Orang Dewasa. http://edukasi.kompasiana.com/2011/02/23/teori-belajar-andragogi-dan-penerapannya/. Diakses pada tanggal 8 Mei 2012 pukul 10.00 WIB.
Mardikanto, Totok. 2009. Sistem Penyuluhan Pertanian. UNS press. Surakarta.

No comments:

Post a Comment