Tuesday, April 7, 2015

MENABUNG AIR

Pertanian berkelanjutan ialah suatu cara bertani yang mengintegrasikan secara komprehensif aspek lingkungan hingga sosial ekonomi masyarakat pertanian. Suatu mekanisme bertani yang dapat memenuhi kriteria (1) keuntungan ekonomi; (2) keuntungan sosial bagi keluarga tani dan masyarakat; dan (3) konservasi lingkungan secara berkelanjutan. Dalam pelaksanaannya pertanian berkelanjutan identik dengan pertanian organik.
Pertanian berkelanjutan bertujuan untuk memutus ketergantungan petani terhadap input eksternal dan penguasa pasar yang mendominasi sumber daya agraria. Pertanian berkelanjutan merupakan tahapan penting dalam menata ulang struktur agraria dan membangun sistem ekonomi pertanian yang sinergis antara produksi dan distribusi dalam kerangka pembaruan agraria.
Pelaksanaan pertanian berkelanjutan bersumber dari tradisi pertanian keluarga yang menghargai, menjamin dan melindungi keberlanjutan alam untuk mewujudkan kembali budaya pertanian sebagai kehidupan. Pertanian berkelanjutan merupakan tulang punggung bagi terwujudnya kedaulatan pangan. Salah satu cara demi terwujudnya pertanian berkelanjutan adalah dengan menabung air atau menghemat air.
Prinsip teknologi hemat air adalah mengurangi aliran yang tidak produktif seperti rembesan, perkolasi, dan evaporasi, serta memelihara aliran transpirasi. Hal tersebut bisa dilaksanakan mulai saat persiapan lahan, tanam, dan selama pertumbuhan tanaman. Salah satu alternatif teknologi dalam pengelolaan air (water management) adalah alternate wetting and drying (AWD) atau pengairan basah kering (PBK). Teknologi ini telah diadaptasi di negara-negara penghasil padi seperti China, India, Philipina, dan Indonesia. Secara umum, penggunaan teknologi ini tidak menyebabkan penurunan hasil yang signifikan dan dapat meningkatkan produktivitas air. 
 Prinsif dari penerapan PBK adalah memonitor kedalaman air dengan menggunakan alat bantu berupa pipa. Setelah lahan sawah diairi, kedalaman air akan menurun secara gradual. Ketika kedalaman air mencapai 15 cm di bawah permukaan tanah, lahan sawah kembali diairi sampai ketinggian sekitar 5 cm. Pada waktu tanaman padi berbunga, tinggi genangan air dipertahankan 5 cm untuk menghindari stress air yang berpotensi menurunkan hasil. Batas kedalaman air 15 cm ini dikenal dengan PBK aman (safe AWD) yang bermakna bahwa kedalaman air sampai batas tersebut tidak akan menyebabkan penurunan hasil yang signifikan karena akar tanaman padi masih mampu menyerap air dari zona perakaran. Setelah itu, pada fase pengisian dan pemasakan, PBK dapat dilakukan kembali. Apabila terdapat banyak gulma pada saat awal pertumbuhan, PBK dapat ditunda 2 sampai 3 minggu sampai gulma dapat ditekan.
Manfaat pengairan berselang dan metode basah kering 
1.    Bersinergi dengan pemupukan, karena serapan hara tinggi terjadi pada kondisi tanah basah-kering
2.    Dapat menekan keracunan tanaman akibat akumulasi besi (Fe) dalam tanah
3.    Apabila dikombinasikan dengan pengendalian gulma menggunakan cara manual (gasrok/landak) dan pemupukan, maka pupuk dapat bercampur dengan tanah sehingga pemakaiannnya lebih efisien.
4.    Menghambat perkembangan hama (penggerek batang, wereng coklat, keong mas), dan penyakit (busuk batang dan busuk pelepah daun).
5.    Tanaman padi lebih tahan rebah karena sistem perakaran yang lebih dalam.
Pipa paralon (PVC) bisa digunakan sebagai alat teknologi PBK untuk mengamati air di bawah permukaan. Pipa bisa diganti dengan bahan lain seperti bambu atau bahan lainnya. Banyaknya alat yang diperlukan tergantung pada tofografi lahan, satu alat bisa mewakili luasan 500 m2, sedangkan pada kemiringan 3 – 5% satu unit alat mewakili 100 m2. Pipa berukuran 35 cm dibenamkan sedalam 20 cm, sehingga tinggi pipa dari permukaan tanah adalah 15 cm, kemudian tanah di dalam pipa dikeluarkan. Untuk tahapan pengkajian atau uji coba, petani memonitor/mengukur kedalaman air di dalam pipa setiap interval waktu 2 hari dan melakukan teknik basah kering (pengairan lahan sawah) sesuai dengan prinsif PBK. Setelah petani percaya PBK tidak menurunkan hasil secara nyata, pipa yang dibenamkan cukup 15 cm sesuai dengan PBK aman dan tidak perlu lagi mengukur dengan mistar. Petani pun bisa mencoba mengubah batas PBK aman yakni dengan menambah batas kedalaman muka air untuk diairi misalnya 20 cm, 25 cm, dan 30 cm.
Tidak hanya dari segi pertanian berupa tanaman, peternakanpun bisa ikut andil bekerja sama dalam menabung air atau penghematan air. Seperti yang dilakukan di swedia, yaitu penghematan air terhadap budidaya ternak karena sebagian besar air tawar digunakan untuk pertanian.
Sejak tahun 1986, Elisabeth Gauffin mengelola peternakan Stabby Gård di Uppsala dan enam tahun lalu peternakan ini menerima “Krav“, sertifikat bagi pertanian organik. Penggunaan sumber daya secara hemat – mulai dari air sampai bagaimana mengurus hewan – merupakan prioritas utama, dikatakan Gauffin, yang memiliki 180 ekor sapi perah. “Misalnya kami menggunakan lebih sedikit energi, jika sapi-sapi sedang berada di luar.” Selama musim dingin, hewan ternak hanya ditempatkan untuk waktu singkat di kandang yang diperlengkapi dengan alat pemanas ruangan. “Saat ini ternak tengah “cuti”. Dua bulan dalam setahun mereka tidak usah memproduksi susu, Kemudian mereka mempunyai anak dan kami memerah sapi delapan sampai 10 bulan,” dijelaskan Gauffin.
Seluruh sumber yang dimiliki peternakan dimanfaatkan, mulai panas yang dihasilkan sapi sampai memanfaatkan kotoran sapi sebagi pupuk. Selain itu, peternakan Stabby Gård membudidayakan gandum dengan metode pengelolaan berkelanjutan, seperti dengan menanam lebih dari satu jenis tanaman pangan.
Sumber daya air semakin menjadi tema yang diperhatikan, dikatakan Elisabeth Gauffin. “Swedia merupakan negara yang kaya dengan air. Situasi bagi kami baik, karena kamai memiliki banyak air. Tapi jika muncul periode panas yang lama di musim panas, kami juga menyadari bawa air menjadi komoditas yang langka.“ Sebenarnya, Elisabeth Gauffin tidak harus memikirkan berapa banyak air yang dibutuhkan bagi produksi satu liter susu. “Namun jika perubhan iklim terus berlanjut, maka ini akan menjadi masalah di Swedia.”Di peternakan Stabby air ditangani secara hemat dan air yang telah digunakan juga dimanfaatkan kembali, seperti untuk membersihkan kandang.
Untuk produksi satu kilogram gandum diperlukan hingga 1.000 liter air. Perhitungan Anthony Allen ini tidak hanya berupa air yang dipakai untuk tanaman, tapi juga air yang terakumulasi pada transportasi, penyimpanan dan pengepakan. Air virtual demikian peneliti asal Inggris ini menyebutnya. Siapa yang setiap hari makan daging, memerlukan lebih banyak air, dikatakan Anthony Allen. “Saya selalu berusaha menegur orang-orang dengan melontarkan pertanyaan: kamu manusia lima atau dua setengah kubik meter? Maksud saya, apakah seseorang mengkonsumsi makanan yang memerlukan 2.500 atau 5.000 liter air per hari.” Vegetarian masuk dalam jumlah 2.500, sementara pemakan daging 5.000. Ini merupakan jumlah yang besar dibandingkan dengan sekitar 150 liter air yang setiap orang butuhkan untuk minum dan sanitasi, dikatakan Anthony Allen.
70 persen sumber daya di dunia dipergunakan pada sektor pertanian. Pada Pekan Air di Stockholm, Swedia, dibicarakan secara intensif, apakah penggunaan air ini akan dibebankan kepada konsumen lewat pajak atau biaya tambahan. Menurut Elisabeth Gauffin hal ini masuk akal, seperti yang ditunjukkan pertanian organik. Karena pertanian ini juga berfungsi untuk menunjukkan kepada konsumen, berapa banyak air yang diperlukan untuk produksi. “Intinya adalah untuk memberikan informasi kepada konsumen tentang asal-usul dan kondisi produk agar rantai produksi dapat diteliti dan masyarakat memahami, betapa baiknya metode produksi kami.“
Jadi, untuk meningkatkan keefektifan pertanian berkelanjutan, memang perlu adanya hemat air dari segi pertanian maupun peternakan. Penggunaan air secukupnya maupun pemanfaatan air berkelanjutan. Hal ini akan sangat berguna untuk pertanian sekarang apalagi di masa yang akan datang sehingga air yang ditabung pada masa sekarang bisa digunakan untuk masa mendatang dan begitu seterusnya. Sehingga dunia pertanian tidak akan takut dengan bahaya kekeringan yang akan mengancam kelangsunngan pertanian.mulai dari sekarang kita harus menggunakan segala sesuatu dengan memikirkan jangka penjang, sehingga kelangsungan masih tetap ada.

No comments:

Post a Comment